Home / Berita / News

Rabu, 8 Maret 2023 - 09:02 WIB

Status Semeru Siaga, PVMBG : Jauhi Pusat Erupsi 13 Kilometer

(Foto : Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Selasa (7/3/2023)

(Foto : Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Selasa (7/3/2023)

iBenews.id – Gunung Semeru dinyatakan masih dalam status siaga atau level III. Hal ini berdasarkan hasil evaluasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) secara menyeluruh, baik visual, instrumental, dan potensi bahayanya. Karena status siaga ini, PVMBG pun mengimbau masyarakat tidak melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 kilometer dari puncak atau pusat erupsi.

Kepala Badan Geologi PVMBG, Hendra Gunawan, melalui surat terkait evaluasi tingkat aktivitas Gunungapi Semeru, mengatakan, di luar jarak 13 kilometer itu masyarakat pun diimbau agar tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 kilometer dari puncak.

“Supaya masyarakat tidak beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah atau puncak Gunung Api Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu pijar,” jelasnya.

Selain itu, Hendra pun mengimbau agar masyarakat mewaspadai potensi Awan Panas Guguran (APG), guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai atau lembah yang dahulu di puncak Gunungapi Semeru. “Terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan,” imbaunya.

Dalam suratnya, Hendra memaparkan hasil pengamatannya secara visual. Bahwa gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, asap kawah tidak teramati. Dijelaskannya, cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga kencang ke arah utara, timur laut, timur, tenggara, selatan, dan barat dengan suhu udara sekitar 20-27°C.

“Asap letusan teramati satu kali berwarna putih kelabu tinggi 500 meter. Secara visual, letusan dan guguran lava yang terjadi jarang teramati karena terkendala dengan cuaca yang berkabut,” terangnya.

Sedangkan untuk pengamatan secara instrumental, Hendra menjelaskan bahwa jumlah dan jenis gempa yang terekam masih didominasi oleh jenis gempa permukaan seperti Gempa Letusan, dan Gempa Hembusan.

“Selama periode 27 Februari hingga 6 Maret 2023 terjadi 583 kali Gempa Letusan atau Erupsi, 18 kali Gempa Guguran, 30 kali Gempa Tektonik Jauh, dan 1 kali Getaran banjir,” sebutnya.

Lebih lanjut dijelaskan Hendra, data pemantauan Tiltmeter periode 1 Januari 2022 hingga 5 Maret 2023 pada stasiun tiltmeter Argosuko secara berfluktuatif terus menunjukkan pola inflasi di akhir periode pemantauan.

“Begitu pula Stasiun Jawar menunjukkan pola inflasi, hal ini menunjukkan adanya perpindahan tekanan pada tubuh Gunung Semeru seiring proses pergerakan fluida berupa batuan, gas, dan cairan dari bagian dalam ke permukaan yang lebih dangkal dan masih berlangsung bersamaan dengan keluarnya material erupsi dan hembusan,” ungkapnya.

Hendra juga menyampaikan, data pemantauan GPS kontinyu pada lima stasiun (Sawr, Argo, Bang, Lekr, dan Twsg) Gunung Semeru pada periode 24 Februari hingga 5 Maret 2023 menunjukkan hampir semua arah vector di seluruh stasiun menjauhi tubuh Gunung Semeru, dan perubahan jarak antar baseline pada semua stasiun GPS juga mengindikasikan terjadinya inflasi.

Evaluasi Gunung Semeru

Berdasarkan pengamatan secara visual maupun instrumental tersebut, dalam suratnya Hendra menuturkan pada periode 27 Februari hingga 6 Maret 2023, aktivitas erupsi dan guguran lava masih terjadi, namun secara visual tidak teramati karena terkendala dengan cuaca berkabut.

“Dalam periode ini, jumlah gempa yang terekam mengalami peningkatan dan Gempa Letusan masih didominasi, diikuti Gempa Hembusan dan Gempa Guguran. Sementara Gempa Vulkanik Dalam dan Gempa Harmonik yang masih terekam mengindikasikan masih adanya suplay di bawah permukaan Gunung Semeru bersamaan dengan pelepasan material hasil letusan di sekitar kawah Jonggring Seloko,” kata Hendra.

Hendra menerangkan, pemantauan deformasi dengan peralatan Tiltmeter dan GPS kontinyu pada periode ini masih berfluktuasi, namun di akhir periode pengamatan menunjukkan pola kecenderungan inflasi pada tubuh Gunung Semeru dan di sekitar puncak yang berkolerasi dengan adanya tekanan dari dalam tubuh gunungapi dan bergerak ke permukaan bersamaan dengan keluarnya material saat terjadi erupsi dan hembusan.

“Kejadian getaran banjir yang teramati delam periode ini, mengiindikasikan masih tingginya kejadian lahar di aliran sungai yang berhulu di Gunung Semeru terutama yang mengarah ke aliran Besuk Kobokan,” ujarnya.

Terkait potensi ancaman bahaya, Hendra pun menambahkan dalam suratnya bahwa, akumulasi material hasil letusan erupsi (letusan dan aliran lava) maupun pembentukan ‘scoria cones’ berpotensi menjadi guguran lava pijar atau pun awan panas guguran.

“Material guguran lava dan awan panas yang sudah terendapkan di sepanjang aliran sungai yang berhulu di puncak Gunung Semeru, berpotensi menjadi lahar jika berinteraksi dengan air hujan. Selain itu, interaksi endapan material guguran lava atau awan panas guguran yang bersuhu tinggi dengan air sungai akan berpotensi terjadinya erupsi sekunder,” pungkasnya. (iB-1)

Share :

Baca Juga

HEADLINE

Pelantikan Prabowo – Gibran Sebagai Presiden dan Wakil Presiden Terpilih Dipercepat?

HEADLINE

Indonesia Memiliki Berbagai Jenis Potensi Wisata Air

HEADLINE

Indonesia Maksimalkan Tata Kelola Air untuk Sektor Pariwisata

LABUAN BAJO

Lamanya Proses Pembuatan SHM di BPN Manggarai Barat? Begini Standar Sesuai Aturan BPN

HEADLINE

Menteri ATR: World Water Forum bisa hasilkan gagasan-solusi air global

HEADLINE

Menteri Kelautan berharap Elon Musk beri internet murah ke nelayan

HEADLINE

Jokowi akan membuka KTT World Water Forum pagi ini, Dihadiri Elon Musk

MANGGARAI BARAT

BPBD Pemkab Manggarai NTT Antisipasi Potensi Bencana Dampak El Nino