Home / Entertainment / News / Pendidikan

Sabtu, 14 Januari 2023 - 07:19 WIB

Hadapi “Perubahan”, Mahasiswa Petra Christian University Buat Tiga Film Dokumenter

Suasana Screening Tiga Film Dokumenter Karya Mahasiswa PCU

Suasana Screening Tiga Film Dokumenter Karya Mahasiswa PCU

iBenews.id – Kembali, tiga film karya mahasiswa Broadcast and Journalism, Communication Science, PCU (Petra Christian University) melakukan screening di CGV Marvel City Jalan Ngagel no 123 pada Jumat, 13 Januari 2023 mulai pukul 17.00-19.00 WIB.

“Ketiga film yang ditampilkan mengambil tema utama mengenai “sebuah perubahan”. Berubah ini sendiri dalam kehidupan manusia menjadi sebuah tantangan yang mau tidak mau harus dialami. Karya para mahasiswa tersebut mencoba menghadirkan tayangan yang menggugah rasa “berubah” penonton dari berbagai sudut pandang.”, kata Daniel Budiana, S.Sos., MA., selaku dosen pengajar Mata Kuliah Film Dokumenter.

Karya para mahasiswa itu merupakan project ujian akhir semester dari mata kuliah Produksi Film Dokumenter. Ketiga film dikerjakan secara berkelompok dengan enam mahasiswa di dalamnya. Ketiga film tersebut berjudul Lensa Ludruk, Ahad Ijem dan Exist.

Sebelum diproduksi, film-film itu melalui proses wawancara dan riset terlebih dahulu. Sebab harus menampilkan fakta yang terjadi dalam kehidupan dunia nyata. Penasaran bagaimana ceritanya? Yuk, tengok sekelumit sinopsisnya.

Lensa Ludruk
Film yang diproduksi oleh Maria Patricia, Elizabeth Melinda, Cindy Silviana, Levina Natania, Rhaditya Rahutama dan Thessalonica Dwi ini menceritakan kehidupan sebuah komunitas yang mempertahankan kesenian Ludruk khas Jawa Timur ditengah gempuran zaman.

Rektor PCU, Djwantoro Hardjito berfoto bersama kru film Lensa Ludruk

“Sesuai dengan judul filmnya, fungsi lensa untuk memfokuskan kesenian Ludruk. Seperti yang kita ketahui, minat Ludruk ini sangat sedikit. Padahal Ludruk merupakan kesenian khas Jawa Timur, dengan adanya film ini maka kesenian Ludruk tidak punah dimata anak-anak muda zaman sekarang.”, ungkap Maria yang bertugas sebagai Produser.

Film berdurasi 16 menit tersebut bekerjasama dengan komunitas Luntas, sebuah komunitas Ludruk yang mempunyai keinginan memoderinasi kesenian Ludruk agar dapat dinikmati oleh anak millenial.

Proyek yang beranggotakan enam mahasiswa ini juga menemukan kendala yaitu membagi waktu kuliah dengan proses membuat film (riset, wawancara hingga pembuatan film). “Tapi kami jadi belajar banyak hal diantaranya membuat storyline.”, tambah Elizabeth.

Ahad Ijem
Film berdurasi 18 menit ini mengisahkan mengenai pentingnya masalah pelestarian alam bagi kehidupan manusia. “Ahad Ijem” sendiri dalam bahasa Inggris dituliskan “The Green Sunday, atau dalam bahasa indonesia diterjemahkan artinya Minggu yang Hijau.

Rektor PCU, Djwantoro Hardjito berfoto bersama kru film Ahad Ijem

“Kami melihat air dan alam menjadi sumber utama kehidupan dan salah satu bagian Sustainable Development Goals. Kolaborasi dengan komunitas Resan, kami mencoba menelisik lebih Gunungkidul di Daerah Istimewa Yogyakarta yang kerap diberitakan terdampak kekeringan.”, ungkap Sentanu sebagai Produser.

Tim yang beranggotakan enam mahasiswa. Yaitu Sentanu Chandra, Rachel Oktavia, Steven Petradi, Priscilla Christy, Ferry Shandy dan Helena Genoveva tersebut menghabiskan waktu hingga 10 hari di Yogya. Mereka tidak menduga bahwa ternyata perjalanan ke pelosok Gunungkidul sangat sulit, akses jalannya berbatu-batu.
Ide awal pembuatan film ini saat melihat sebuah pemberitaan di suatu media. Sederhana tapi menarik.

Komunitas ini menggunakan cara yang unik dalam usahanya melestarikan alam. “Mereka mengadakan gerakan penanaman serta upacara adat setelah bibit pohon ditanam. Kami lebih menekankan ada usaha dalam menghargai alam.”, tutup Sentanu (12/1).

Exist
Exist atau dalam bahasa i
Indonesia yang berarti “ada” dipilih karena merupakan inti dari film dokumenter ini. Berdurasi kurang lebih 15 menit, film apik ini diproduksi oleh Grace Maria Etter, Fedorike Yaphilia, Jennifer Annebeal, Celine Christiara Median Putri, Richard dan Russell Vernoon.

Rektor PCU, Djwantoro Hardjito berfoto bersama kru film Exist

“Mengambil lokasi di Desa Gintangan, Banyuwangi, kerajinan yang masih dihasilkan oleh warga adalah “Menganyam”. Kebetulan ini merupakan salah satu budaya tertua di Indonesia. Tetapi perkembangan zaman yang sudah maju, apakah budaya ini dapat bertahan beberapa tahun kedepan?.”, urai Grace saat menyampaikan melalui pesan WA (12/1).

Idenya didapatkan saat mencari di internet. “Yang susah mencari topik dan narasumber yang menarik. Kami pengen jangan melupakan budaya yang ada meski ada perubahan. Jadi anak muda itu harus mau memajukan Indonesia dengan melestarikan budaya-budaya yang ada.”, rinci Celine.

Daniel menambahkan (12/1), calon-calon sineas muda ini memang belum sempurna.

“Tetapi lewat diskusi dan segala masukan diharapkan akan semakin menyempurnakannya. Hadirnya film Dokumenter ini akan memperkaya dan mengingatkan masyarakat untuk terus mendukung dan “aware” perubahan yang terjadi di sekitar kita.”, tutupnya. (iB-1)

Share :

Baca Juga

HEADLINE

Menparekraf: Penerbangan Internasional ke Labuan Bajo Akan Terealisasi di Kuartal IV 2024

HEADLINE

Kemenparekraf-Basarnas Evaluasi Protokol Keamanan dan Keselamatan di DPSP Labuan Bajo

HEADLINE

Upaya Kembangkan Ekonomi Kreatif, Apresiasi Kreasi Indonesia 2024 di Labuan Bajo

HEADLINE

Erick Tohir Ajak Pengusaha Uni Emirat Arab ke Golo Mori Labuan Bajo

HEADLINE

Indonesia Mendapat Apresiasi, World Water Forum ke-10 Resmi Ditutup

HEADLINE

Strategi Pemasaran Efektif dengan Aplikasi Chatbot WhatsApp

HEADLINE

Pelantikan Prabowo – Gibran Sebagai Presiden dan Wakil Presiden Terpilih Dipercepat?

HEADLINE

Indonesia Memiliki Berbagai Jenis Potensi Wisata Air