Home / News / Pendidikan

Rabu, 13 Juli 2022 - 16:13 WIB

Kreatif dan Inovatif, Dua Mahasiswa Akhir UK Petra Olah Ampas Kopi dan Limbah Plastik HDPE

Boni menunjukkan inovasi ampas kopi menjadi pewarna alami (Foto: Humas UK Petra)

Boni menunjukkan inovasi ampas kopi menjadi pewarna alami (Foto: Humas UK Petra)

iBenews.id – Siapa sangka, limbah ampas kopi dan plastik HDPE ditangan dua mahasiswa Visual Communication Design program UK Petra, Fakultas Humaniora dan Industri Kreatif (FHIK) bisa menjadi barang berdaya guna kembali. Karya Tugas Akhir (TA) para mahasiswa ini merupakan hasil dari Outcome Based Education-Leadership Enchancement Program (OBE-LEAP) Community Engagement UK Petra yang sejalan dengan program Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM).
Kedua mahasiswa ini adalah Veronica Boni Pamudja yang mengolah limbah ampas kopi sedangkan Suryo Putro Hutomo mengolah limbah plastiK HDPE.

Veronica Boni Pamudja (BAWARNA, Pewarna Alami Tekstil dari Ampas Kopi)

Boni, panggilan akrabnya, mengatakan bahwa saat ini meningkatnya konsumsi kopi di Indonesia ini juga diikuti dengan menjamurnya kedai-kedai kopi sehingga membuat limbah ampas kopi semakin meningkat pula.

“Akibatnya terjadi penumpukan limbah di TPA yang berakibat buruk seperti tanah semakin asam hingga meningkatkan laju pemanasan global. Maka dari itu melihat kenyataan ini akhirnya tertantang mengolah limbah ampas kopi”, ungkap Boni.

Mahasiswi asal Surakarta ini mampu menghasilkan tiga jenis pewarna alami yaitu dari ampas kopi saja, ampas kopi dengan campuran secang dan ampas kopi dengan campuran kunyit.

Hasilnya sebuah warna yang sangat unik. Menurut mahasiswi yang hobi menggambar ini mengatakan ada dua tahapan pengolahan ampas kopi. Menjemur ampas kopi maupun bahan lainnya. Tahapan kedua proses ekstrasi, mengambil zat warnanya dengan menggunakan air yang direbus bersamaan dengan bahan sampai menyusut hingga setengahnya.

“Proses menjemur bisa mencapai satu hingga dua hari tergantung cuacanya saat itu.

Sedangkan proses ekstrasi membutuhkan wajtu sekitar 1 jam untuk mendapatkan 600 ml pewarna”., urai Boni.

Sesuai dengan pemilihan OBE-LEAPnya maka Boni bekerja sama dengan komunitas disabilitas berbasis ekonomi “Self Help Group Solo” maka menghasilkan empat produk dari pewarna alami hasil limbah kopi. Empat produk itu adalah dua outer dan dua tote bag. “Dua jenis produk daily fashion apparel yaitu Arsa Outer dan Abisatya Tote Bag ini dikemas dalam sebuah brand bernama BAWARNA”., rinci Boni yang memperoleh nilai A untuk TAnya itu.

Suryo Putro Hutomo (tu tuk tu, Hasilkan Empat Produk dari Limbah Plastik HDPE)

Suryo saat menunjukkan inovasi Dari limbah plastik HDPE jadi produk dekorasi

Si plastik yang paling popular di dunia yaitu plastik High Density Polyethylene (HDPE) ternyata limbahnya dapat diolah menjadi barang yang berdaya jual tinggi.

“Saya ingin mengurangi sampah plastik di Kabupaten Nganjuk. Fokusnya mengolah sampah plastik yang dikolaborasikan dengan bahan kayu sehingga menghasilkan kerajinan baru dalam brand “tu tuk tu”. Jika berhasil, tidak menutup kemungkinan bisa di lakukan pada daerah lain.”, urai Suryo saat ditemui di kampus memamerkan karyanya.

Suryo yang kini sudah bekerja sebagai Freelance desain grafis & branding ini mampu menghasilkan empat produk yaitu tempat pensil, laci kecil, pigora lengkap dengan hiasan lepas-pasang serta Desk Organizer.

Mahasiswa yang kini menanti wisuda saja itu bercerita bahwa produk brand “tu tuk tu” ini merupakan hasil kolaborasi dengan pengrajin kayu “Pranata Wood” di Nganjuk. Hal ini sesuai dengan OBE-LEAPnya. Produk “tu tuk tu” memiliki Unique Selling Proposition sebab merupakan gabungan bahan kayu dan leburan sampah plastik HDPE sebagai pelengkap atau pemanis.

Proses yang dilalui mahasiswa yang memperoleh nilai A ini cukup panjang. Suryo harus mencari sampah hingga ke pemasok cacahan sampah plastik. Tetapi ternyata tidak semudah itu, warna cacahan masih tercampur.

“Saya hanya menggunakan warna kuning-putih, biru-putih, hijau-putih. Sedangkan dari pemasok warnanya hijau tercampur kuning, biru tercampur ungu dan hitam. Lalu semuanya masih kadang tercampur kotoran seperti hologram, kertas stiker. Jadi harus di bersihkan kembali baru bisa dicuci kemudian dilebur.”, tambah Suryo.

Setelah proses itu selesai, barulah Suryo melebur dan menjadikan satu dengan kayu. Tak heran jika proses yang Panjang ini mampu menghasilkan karya yang apik pula hanya dari limbah yang sudah tidak digunakan lagi. (iB-1)

Share :

Baca Juga

HEADLINE

Erick Tohir Ajak Pengusaha Uni Emirat Arab ke Golo Mori Labuan Bajo

HEADLINE

Indonesia Mendapat Apresiasi, World Water Forum ke-10 Resmi Ditutup

HEADLINE

Strategi Pemasaran Efektif dengan Aplikasi Chatbot WhatsApp

HEADLINE

Pelantikan Prabowo – Gibran Sebagai Presiden dan Wakil Presiden Terpilih Dipercepat?

HEADLINE

Indonesia Memiliki Berbagai Jenis Potensi Wisata Air

HEADLINE

Indonesia Maksimalkan Tata Kelola Air untuk Sektor Pariwisata

LABUAN BAJO

Lamanya Proses Pembuatan SHM di BPN Manggarai Barat? Begini Standar Sesuai Aturan BPN

HEADLINE

Menteri ATR: World Water Forum bisa hasilkan gagasan-solusi air global